MAKALAH
ANALISIS SWOT
(Strength,
Weakness, Opportunities dan Threats)
ANALISIS
SWOT
Usaha Kopi pada PT. Agro Mandiri.tbk
OLEH:
MARIKUN
JURUSAN
SISTEM INFORMASI
NIM
C1057201024
SEKOLAH
TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
(STMIK
) PALANGKARAYA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi
bubuk terbesar didunia. Oleh sebab itu maka tidak heran apabila di Indonesia
terdapat banyak sekali kebun-kebun kopi yang terhampar luas di
provinsi-provinsi yang berada di Indonesia. Jenis kopi yang di hasilkan dari
bumi indonesia adalah antara lain: kopi Rubusta dan kopi Arabica. Daerah-daerah
penghasil kopi di Indonesia adalah antara lain Sumatra, Sulawesi, Halmahera,
dan Jawa.
Indonesia bukan hanya negara yang
menghailkan kopi saja namun Indonesia juga termasuk negara dengan konsumsi kopi
terbesar di dunia. Penikmat kopi di Indonesia beragam yaitu mulai dari kalangan
elit dan juga kalangan masyarakat biasa, tua dan muda.
Meskipun demikian,
industri-industri di indonesia yang mengolah atau memproduksi kopi masih belum
mencukupi kebutuhan pasar lokal (Indonesia) dan pasar global (mendunia). Oleh
karena itu harga kopi di indonesia khususnya kopi bubuk itu masih beluum
merakyat (mahal).
Dengan demikian tidak heran apabila
industri-industri kopi di indonesia sekarang banyak memproduksi produck trobosan baru yaitu kopi
sachet instan yang beranega ragam. Selain
lebih murah dan terjangkau oleh semua kalangan kopi sachet produck
trobosan baru ini pun tidak kalah nikmat dibandingkan dengan kopi bubuk.
Dengan demikian ditetapkanlah
strateti dan kebijakan pengenbangan perkopian di Indonesia ke depan digunakan
analisis SWOT. Identifikasi peluang ancaman (tantangan) yang dihadapi oleh
suatu industry serta analisis terhadap factor-faktor kunci menjadi bahan acuan
dalam menetapkan strategi dan kebijakan penanganan perkopian di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Analisis Dan Pembahasan
A. Sejarah
Singkat Kopi Di Indonesia
Ditahun 1696, Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan biji
kopi ke Gubernur Belanda di Batavia, pengiriman pertama hilang karen banjir
yang terjadi di Batavia, sedangkan pengiriman kedua dilakukan pada tahun 1699.
Ekspor kopi pertama dilakukan pada tahun 1711 ole VOC, dalam tempo 10 tahun
eksport meningkat sampai 60 ton/tahun. Indonesia adalah tempat perkebunan pertama diluar
Arabica dan Ethiopia dan VOC memonopoli perdangan kopi ini dari tahun 1725
sampai 1780.
Di tahun 1700an harga kopi yang dikirim ke Batavia sekitar 3 Guilder/kilo di Amsterdam, Belanda
dan itu sama dengan beberapa ratus USD/kilo dengan kurs saat ini, harga kopi
memang sangat mahal saat itu. Akhir abad 18 harga kopi turun menjadi 0.6
Guilder/kilo sehingga kopi bias diminum untuk kalangan yang lebih luas lagi.
Telihat bahwa perdadangan kopi sangat menguntungkan VOC,
tetapi tidak untuk petani kopi di Indonesia saat itu karena diterapkannya
system cultivation ( cultuurstelsel).
VOC
kemudian melebarkan sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra,
Bali, Sulawesi dan Timor. Di Sulawesi mulai ditanam tahun 1750, di dataran
tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo,
Aceh dekat danau laut tawar ditahun 1924. Saat ini ada 20 varietas kopi arabica
di Indonesia yang terbagi dalam 6 kategori yaitu : Typica – ini tanaman yang
aslinya dibawa oleh Belanda dan sebagian besar hancur ditahun 1880s, saat
penyakit daun kopi menyerang Indonesia, tetapi di Bergandal dan Sidikalang,
varieties Typica masih bisa ditemukan terutama ditempat dataran tinggi.
Hibrido
de Timor (HDT) – dikenal juga dengan varietas “TimTim”, persilangan antara
arabica dan robusta, pertama diambil tahun 1978 di Timor Timur lalu ditanam di
Aceh tahun 1979. Linie S – Varietas ini dikembangkan di perkebunan Bourbon,
India dan jenis yang terkenal adalah S-288 dan S-795, bisa ditemukan di
Lintong, Aceh, Flores dan daerah lain.
Ethiopian
lines – Menyebar di Jawa tahun 1928 lalu juga ke Aceh. Varietas dari Ethiopia
lain yang ditemukan di Sumatra ada yang disebut “USDA” Caturra cultivars:
Caturra adalah mutasi dari kopi Bourbon coffee, nerasal dari Brasil. Catimor
lines – Persilangan antara Arabica dan Robusta sangat kurang aromanya. Tetapi
ada jenis Catimor yang terkenal yaitu “Ateng-Jaluk”. Riset juga menunjukan
bahwa varietas lokal catimor di Aceh menghasilkan karakteristik kopi yang
sangat baik. Kopi Robusta mulai diperkenalkan di Indonesia ditahun 1900an untuk
pengganti kopi arabica yang hancur saat terjadi penyakit tumbuhan menyerang
tanaman kopi arabica, kopi robusta yang lebih tahan terhadap hama dianggap
sebagai alternatif yang tepat terutama untuk perkebunan kopi didaerah dataran
rendah.
Coffea
canephora (Robusta Coffee; Coffea robusta) adalah spesies kopi yang asalnya
dari Afrika Barat dan banyak tumbh di Afrika serta Brazil, biasa disebut
Conillon. Kopi ini juga tumbuh di Asia Tenggara ketika kolonial Perancis
memperkenalkannya akhir abad 19 di Vietnam yang menyebabkan Vietnam yang
memproduksi hanya kopi Robusta melewati Brazil, India dan Indonesia menjadi
penghasil kopi nomor satu didunia.
Sekitar
1/3 produksi kopi dunia ialah kopi Robusta, kopi ini lebih mudah perawatannya
dibandingkan jenis lainnya sehingga biaya produksinya juga murah dan karena
kopi arabica dikenal dengan kualitas yang lebih baik, kopi robusta biasanya
dibuat kopi instant, espresso dengan tingkat caffeine hampir 2 kali lipat
dibandingkan arabica.
Coffea
canephora / Robusta yang tumbuh dibagian Afrika Barat serta Tengah tidak
dikenal sebagai spesis kopi sampai abad ke 18, bisa mencapai ketinggian 10m dan
memerlukan 10-11 bulan sampai bijinya bisa dipanen. Secara umum kopi jenis ini
lebih tahan terhadap cuaca dan mudah pemeliharaannya dibandingkan kopi arabica.
Saat digongseng, aroma yang keluar mengesankan aroma karet yang terbakar dan
lebih menusuk hidung dibandingkan aroma kopi arabica, aroma ini mengesankan
“kekuatan” dikomunitas kopi di Italia.
B. Jenis-jenis
Kopi Di Indonesia
Sebenarnya ada lebih dari 60-an jenis
kopi. Di antara jenis-jenis ini, hanya 2 yang dikembangkan dalam kapasitas
besar untuk dikonsumsi para pecinta kopi. Kedua jenis ini adalah arabica
dan robusta. Keduanya punya ciri khas, rasa dan aroma yang berbeda.
Masing masing jenis (baik Arabica
maupun Robusta) akan punya cita rasa dan aroma yang cukup bervariasi jika
berasal dari tempat yang berbeda. Misalnya: cita rasa dan aroma kopi arabica
jawa akan berbeda dengan kopi arabica lampung ataupun flores.
Ciri khas kopi Arabica
umum-nya:
·
Memiliki
rasa asam yang khas. Cukup bervariasi antara jenis arabica yang satu dengan
yang lainnya.
·
Memiliki
aroma yang khas dan sedap.
·
Rasanya
pahit dan mantab
·
Kadar
kafeinnya 50% lebih sedikit dari pada kopi Robusta
Ciri khas kopi Robusta
umum-nya:
·
Memiliki
rasa asam yang khas, Bahkan tidak ada rasa asam sama sekali.
·
Memiliki
aroma yang manis.
·
Rasanya
mild / lembut
·
Kadar
kafeinnya 2 kali lebih banyak daripada kopi Arabica
Untuk sajian yang menggunakan bahan
susu, cream, santan, ataupun bahan lain yang terasa gurih (seperti halnya
mayoritas menu pada coffee House) sebaiknya menggunakan kopi Arabica.
Untuk sajian kopi sederhana yang
tidak menggunakan bahan diatas, misalnya: cuma dicampur gula, madu, kayu manis,
atau bahan serupa, boleh menyesuaikan dengan selera. Terserah, mau pilih jenis
kopi Arabica atau jenis kopi Robusta.
Untuk diet/menurunkan berat badan,
Para penikmat kopi bisa mengkonsumsi kopi Robusta sebelum berolah
raga. Kafein yang tinggi akan membantu membakar kalori lebih baik, untuk
menemani kerja lembur atau untuk mengusir rasa lelah dan ngantuk, bisa
mengkonsumsi kopi Robusta.
C. Manfaat
Mengkonsumsi Kopi
Mengkonsumsi kopi dapat mencegah penyakit-penyakit
berat yaitu diantaranya mencegah penyakit saraf, kanker payudara dan enyakit
diabetes, asalkan dikonsumsi sesuai porsi dan aturannya. Manfaatnya adalah
sebagai berikut :
1.
Mencegah
penyakit saraf.
Peminum kopi berkafein cenderung tidak akan mengembangkan penyakit Alzheimer
dan Parkinson. Kandungan antioksidan di dalam kopi akan mencegah kerusakan sel
yang dihubungkan dengan Parkinson. Sedangkan kafein akan menghambat peradangan
di dalam otak, yang kerap dikaitkan dengan Alzheimer.
2.
Melindungi
gigi. Kopi yang mengandung kaein
memiliki kemampuan antibakteri dan antilengket, sehingga dapat menjaga bakteri
penyebab lubang menggerogoti lapisan gigi. Minum kopi secangkir setiap hari
terbukti dapat mencegah risiko kanker mulut hingga separuhnya. Senyawa yang
ditemukan di dalam kopi juga dapat membatasi pertumbuhan sel kanker dan
kerusakan DNA.
3.
Menurunkan
risiko kanker payudara.
Menjelang masa menopause, wanita yang mengonsumsi 4 cangkir kopi sehari
mengalami penurunan risiko kanker payudara sebesar 38 persen, demikian menurut
sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of Nutrition. Kopi melepaskan
phytoestrogen dan flavonoid yang dapat menahan pertumbuhan tumor. Namun
konsumsi kurang dari 4 cangkir tidak akan mendapatkan manfaat ini.
4.
Mencegah
batu empedu.
Batu empedu tumbuh ketika lendir di dalam kantong empedu memerangkap
kristal-kristal kolesterol. Xanthine, yang ditemukan di dalam kafein, akan
mengurangi lendir dan risiko penyimpanannya. Dua cangkir kopi atau lebih setiap
hari akan membantu proses ini.
5.
Melindungi
kulit. Konsumsi
2-5 cangkir kopi setiap hari dapat membantu menurunkan risiko kanker kulit
nonmelanoma hingga 17 persen. Kafein dapat memacu kulit untuk membunuh sel-sel
prakanker, dan juga menghentikan pertumbuhan tumor.
6.
Mencegah
diabetes. Orang
yang mengonsumsi 3-4 cangkir kopi reguler atau kopi decaf (dengan kadar kafein
yang dikurangi) akan menurunkan risiko mengembangkan diabetes tipe II hingga 30
persen. Asam klorogenik dapat membantu mencegah resistensi insulin, yang
merupakan pertanda adanya penyakit ini.
2.
SWOT Dan Analisis SWOT
a.
Pengertian SWOT
SWOT
adalah singkatan dari Strenghths (kekuatan), Weakness (kelemahan),
Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Ini adalah teknik untuk
menyediakan kerangka kerja untuk mengidentifikasi secara sistematis posisi
organisasi; caranya berhubungan dengan lingkungan eksternal dan masalah serta
peluang yang dihadapi. Tujuan analisis SWOT adalah untuk memisahkan masalah
pokok dan memudahkan pendekatan strategis.
b. Pengertian Analisis SWOT
Analisis SWOT yaitu analisa kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman (Strength, Weakness, Opportunities dan Threats). Analisis SWOT
merupakan identifikasi yang bersifat sistematis dari faktor-faktor kekuatan dan
kelemahan organisasi serta peluang dan ancaman lingkungan luar dan strategi
yang menyajikan kombinasi terbaik dia antara keempatnya. Setelah diketahui
kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, barulah perusahaan tersebut dapat
menentukan strategi dengan memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya untung
mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada, sekaligus memperkecil atau
bahkan mengatasi kelemahan yang dimilinya untuk menghindari ancaman yang ada.
Analisis
SWOT menurut (Daniel Start
dan
Ingie Hovland)
Analisis
SWOT adalah
instrument
perencanaaan strategis yang klasik.
Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal
dan ancaman, instrument
ini memberikan cara
sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk
melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini menolong para perencana apa yang bias dicapai, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka.
Analisis
SWOT adalah sebuah
instrumen
yang
beraneka
guna,
yang
dapat digunakan
berkali-kali pada berbagai tahap proyek; membangun sebuah telaah ataui untuk pemanasan diskusi sebelum membuat perencanaan. Instrumen ini dapat diterapkan secara luas, atau
sub-komponen yang
kecil (bagian dari strategi) dapat dipisahkan
agar
kita dapat melakukan
analisis yang mendetil. SWOT sering menjadi pelengkap yang berguna ketika
melakukan Analisis
Pemangku Kepentingan.
Kedua
instrumen
ini adalah pendahuluan
yang
baik
sebelum melakukan Force Field Analysis dan Influencing Mapping.
Matrik SWOT digunakan untuk menyusun
strategi organisasi atau perusahaan yang menggambarkan secara jelas bagaimana
peluang dan ancaman yang dihadapi organisasi/perusahaan dapat disesuaikan
dengan kekuatan dan kelemahan organisasi/perusahaan. Matrik ini menghasilkan
empat kemungkinan alternatif strategi yaitu strategi S-O, strategi W-O,
strategi S-T dan strategi W-T.
Untuk lebih jelasnya kondisi
industri perkopian Indonesia, apakah masih mempunyai peluang dalam
pengembangannya atau tidak relevan lagi saat ini, hendaknya kita menganalisis
terlebih dahulu dengan mengunakan analisis SWOT.
c.
Tujuan Analisis SWOT
Untuk memberian gambaran hasil analisis
unggulan,kelemahan,peluang dan ancaman perusahaan secara menyeluruh yang
digunakan sebagai dasar atau penyusunan objective dan strategi perusahaan dalam
corporate planning.
3. Analisis pada swot pada PT. Agro
Mandiri , tbk
a.
Kekuatan
(Strengths)
1.
Tersedianya
berbagai paket teknologi dari mulai pra panen, panen dan pasca panen yang telah
dikembangkan ke masyarakat petani pekebun.
2.
Tersedianya
keragaman produk kopi baik dalam bentuk regular coffee atau specialty coffee.
3.
Masih
terbukanya Peluang pengembangan Product development dalam bentuk kopi setengah
jadi (roasted coffee) maupun kopi jadi (soluble dan instant coffee).
4.
Ketersedian
lahan dan agroklimat yang sesuai, khususnya pengembangan kopi Arabika.
5.
Biaya
produksi relatif lebih rendah.
Di
Indonesia memiliki sedikitnya tujuh macam kopi spesialiti yang telah dikenal
dunia seperti
·
Gayo
Mountain Coffee
dari dataran tinggi Takengon, Aceh Tengah,
·
Mandheling dan Lintong
Coffee dari Sumatera Utara,
·
Java
Coffee
dari dataran tinggi Ijen, Jawa Timur,
·
Toraja/Kalosi
Coffee
dari dataran tinggi Tana Toraja, Sulawesi Selatan,
·
Bali
Coffee
dari dataran tinggi Kintamani, Bali,
·
Flores
Coffee
dari dataran tinggi Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dan
·
Balliem
Highland Coffee
dari dataran tinggi Jaya Wijaya, Irian Jaya.
b.
Kelemahan
(Weaknesses)
1.
Rendahnya
Produktivitas kopi di Indonesia, baik kopi Robusta maupun Arabika.
2.
Belum
proporsionalnya komposisi kopi Arabika dan Robusta. Pertanaman kopi Robusta
mendominasi dibandingkan dengan kopi arabika, sedangkan permintaan kopi dunia
hingga saat ini masih didominasi oleh Arabika dengan pangsa pasar >70 %.
3.
Terbatasnya
ketersediaan lahan yang memadai.
4.
Terbatasnya
panen kopi.
5.
Rendahnya
kualitas/mutu kopi Indonesia.
6.
Kurangnya
sarana dan prasarana yang mendukung industri kopi, khususnya untuk kopi Arabika
yang menuntut lingkungan dengan suhu rendah, yang hanya terdapat pada dataran
tinggi di pegunungan.
7.
Kurang
informasi pasar dalam mengefisienkan sistem tataniaga.
8.
Pemilikan
lahan yang rata-rata masih sempit yaitu seluas 0,69 ha per KK.
9.
Terbatas
atau lemahnya kelembagaan petani dalam posisi rebut pasar (bergaining
position).
10.
Ditinjau
dari aspek hukum belum banyak produk kopi yang tergolong dalam produk specilaty
secara legal memiliki hak paten.
11.
Penerapan
teknologi (agronomi, pasca panen dan pengolahan) yang masih amat terbatas.
c.
Peluang
(Opportunities)
Peluang
pasar kopi Indonesia khususnya dimasa mendatang masih cukup cerah, dengan
beberapa indikator sebagai berikut.
1. Distribusi
supply dan demand kopi dunia. Diasumsikan bahwa, meskipun produksi dunia
mengalami sedikit peningkatan, namun lebih diakibatkan adanya kecenderungan
meningkatnya produksi kopi Robusta di wilayah Asia pasifik. Sedangkan kopi
Arabika dirasakan beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi dan cenderung
mengalami penurunan.
2. Perkembangan
harga kopi dunia. Menurut ICO, perkembangan harga rata-rata kopi Arabika selalu
lebih tinggi dibandingkan harga kopi Robusta, maka dapat diasumsikan bahwa
pengembangan agribisnis kopi Arabika memiliki kecenderungan yang lebih
prospektif dibandingkan dengan Robusta.
3. Perkembangan
konsumsi kopi dunia (terutama negara importir) cukup baik sehingga pasar dan
permintaan baru akan terbuka.
d.
Ancaman
( Treaths)
1. Adanya
ancaman dari minuman lain. Dewasa ini kecenderungan budaya minum kopi khususnya
da pasar tradisional mengalami perubahan yaitu dari “hot beverages” ke “cold
beverages” yaitu peralihan minuman ke soft drink.
2. Penyimpangan
iklim. Perubahan iklim yang akhir-akhir ini sulit diperkirakan akan berdampak
tehadap penyimpangan tipe iklim di suatu wilayah. Sementara tanaman kopi dalam
stadia-stadia tertentu sangat rentan terhadap pengaruh kekurangan dan kelebihan
air yang akan berakibat pada penurunan produksi.
3. Kelangkaan
tenaga kerja. Angkatan kerja di pedesaan kurang berminat bekerja di perkebunan
, hal ini dikarenakan tingkat upah yang diterima masih dirasakan yang relative.
4. Perkembangan
produksi yang besar dinegara lain (Vietnam) sangat tinggi menyebabkan
persaingan pasar sangat tinggi
e.
Alternatif
Strategi
1. Strategi
S-O
·
Pengembangan
area selain didasarkan pada kesesuaian lahan juga dengan pertimbangan memiliki
daya kompetitif dan komparatif secara antar dan intra wilayah serta
pertimbangan permintaan pasar / konsumen baik domestic atau pun dunia.
·
Mengisi
dan meningkatkan peluang pasar yang tersedia baik domestic maupun internasional
serta mempertahankan pasar yang telah
ada melalui berbagai upaya promosi baik dalam dan luar negeri termasuk
mendukung agrowisata.
·
Pengembangan
iklim usaha yang kondusif untuk investasi dibidang perkopian, khususnya
berupaya kebijakan yang diterapkan secara konsisten dan berkkesinambunga.
2. Strategi
W-O
·
Optimalisasi
ketersediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam
mendukung peningkatan kualitas tanaman dan produk yang dihasilkan.
·
Menumbuh
kembangkan fungsi kelembagaan dan kemitraan yang berasaskan kebersaman ekonomi.
·
Optimalisai
usaha tani dalam luasan skala usaha dan ekonomis baik ditingkat petani maupun
usaha menengah dan besar .
3. Strategi
S-T
·
Penajaman
wilayah potensial yang berkelayakan teknis dan tanaman dam upaya peningkatan
produktifitas tanaman dan lahan.
·
Mendukung
pelestariian lingkungan yang berkelanjutan melalui perwujudan usaha perkebunan
kopi yang ramah lingkungan (environmental friendly coffee).
4. Strategi
W-T
·
Melakukan
koordinasi dengan berbagai pihak indtansi yang terkait dala rangka legalisasi
produk-produk kopi special (specialty dan bio coffee) untuk mendapatkan nama
dagang (trade mark) atau hak paten dari roduk-produk yang bersangkutan.
·
Sosialisasi
penerapan system manajemen mutu (SNI, ISO, HACCP) di ikuti dengan perbaikan
melalui penerapan “reward” dan “punishment” terhadap pembelian produk.
·
Meningkatkan
jaminan keamanan berusaha terhadap segala bentuk penjarahan, perambahan atau
aktivitas serupa lainya.
f.
lternatif
Kebijakan
Berangkat
dari strategi diatas, maka kebijakan pengembangan kopi kedepan khusunya secara teknis
dititik beratkan kepada.
1. Kebijakan
Umum
·
Membangun
perkebunan kopi yang berkelanjutan.
·
Mempertsngguh
daya saing komoditas melalui peningkatan mutu hasil dan efesien usaha.
·
Peningkatan
dan pengembangan SDM yang tangguh dan bermutu secara IPTEK yang tepat sesuai
dengan kondidi masing-masing wilayah.
2. Kebijakan
Teknis
·
Kebijakan
ini akan menentukan arah pengembangan kopi kedepan, dengan mengacu
kepada”market oriented”, yaitu.
o
Peningkatan
produktifitas (tanaman dan lahan ) serta mutu hasil melalui upaya
intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan dan diversifikasi pada areal yang telah
ada dan diprioritaskan pada wilayah eks-proyek serta kawasan hutan dan DAS.
o
Pengembangan
komposisi kopi Robusta dan Arabica
melalui upaya konversi lahan Robusta dengan ketinggian tempat di atas
1.000 m dpl, serta penanaman tanaman pada lahan-lahan yang berkelayakan teknis.
o
Kelestarian
dan pengembangan kopi special di lahan subur dengan ketinggian tempat diatas
1.000 m dpl.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar